Jumat , 28 April 2017
Beranda > Kajian > Menuai Pahala Besar

Menuai Pahala Besar

Kalkulasi untung-rugi dalam beramal adalah sesuatu yang wajar dan sangat manusiawi. Siapapun yang beramal, pada akhirnya akan menyentuh hitung-hitungan untung-rugi, tentang sesuatu yang menguntungkan bagi dirinya, baik material maupun spiritual. Orang-orang beragama tentu saja akan membuat perhitungan ganda, sesuai misi kemanusiaan ajaran agama, yaitu kebahagiaan di dunia dan juga kebahagiaan di akhirat.

Orang-orang yang mengikatkan dirinya pada sesuatu agama, hampir bisa dipastikan bahwa kehidupannya di dunia hanyalah sebentar saja dibandingkan dengan kehidupan di akhirat akan berlangsung sangat lama dan bahkan abadi tak berujung. Kalau hitung-hitungan secara materi, kita akan mendapatkan gambaran kurang lebih sama seperti ketika kita melaksanakan umrah. Satu bulan pasti biayanya lebih mahal dari pada umrah lima belas hari atau jauh lebih mahal dari pada umrah Sembilan hari. Artinya lebih lama umrahnya pasti akan lebih mahal biayanya karena untuk menutupi kebutuhannya sehari-hari. Gambaran tersebut, kita analogikan dengan kehidupan kita di dunia yang hanya sebenta, akan tetapi harus mengumpulkan pahala yang sangat banyak untuk menutupi kebutuhan kehidupan kita di akhirat yang kekal dan abadi.

Ada banyak pintu untuk mendapatkan pahala yang banyak dalam kehidupan yang sangat singkat ini. Agar kebutuhan kita di akhirat kelak bisa terpenuhi, kita dituntut sanggup memilih dan memilah perbuatan-perbuatan yang pahalanya berlipat ganda. Misalnya, ketika kita berinfak kepada fakir miskin kita akan mendapatkan pahala sepuluh kali lipat, sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

“Barang siapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya…” (QS. Al-An’am [6]: 160).

Pahala ini akan kita tuai jauh lebih besar lagi terutama ketika kita berinfak untuk jihad fi sabilillaah. Kemahabesaran Allah ini dapat kita peroleh secara berlipat ganda bahkan samapak ke tujuh ratus kali lipat, sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akam meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya lah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Baqarah [2]: 245).

Dalam kitab tafsir Aisiru at-Tafaasir dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan “Memberi pinjaman kepada Allah” seperti tertuang dalam ayat Al-Qur’an di atas adalah “memisahkan sebagian hartanya dan menginfakannya dalam berjihad, untuk membeli senjata atau sarana dan memberi kemudahan bagi orang-orang yang berjihad (termasuk mencari ilmu).”

Berkaitan dengan janji Allah ini, dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah [2]: 261 Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”

Berkenaan dengan janji Allah seperti disebutkan di atas, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wasallam merasa terpanggil memberikan penjelasan dengan memberikan tawaran berharga kepada umat para pengikutnya agar mendapatkan pahala yang luar biasa, sehingga akan mendapatkan pahala yang cukup untuk biaya atau bekal hidup kita di akhirat kelak. Meskipun, harus diakui bahwa masuk Syurga itu sendiri semata-mata kerena rahmat Allah. Rasulullah mengisyaratkan:

Dalam kitab Hilyatul Auliya wa Thabaqaatul Ashfiya, jilid 2 halaman 343, dijelaskan “ Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullaah Shalallaahu ‘alaihi Wasallam bersabda: Tujuh hal yang pahalanya akan terus mengalir kepada seorang hamba setelah dia meninggal dunia dan dia berada di alam kuburnya, (yaitu): (1) Orang yang mengajarkan ilmu, atau (2) Orang yang mengalirkan sungai, atau (3) Orang yang menggali sumur, atau (4) Orang yang menanam pohon, atau (5) Orang yang membangun Masjid, atau (6) Orang yang mewariskan/mewaqafkan Mushaf/Al-Qur’an, atau (7) Orang yang meninggalkan anak yang memohonkan ampun baginya setelah dia wafat.”

Mari kita telaah lebih jauh isyarat Rasulullah di atas. Pada garis besarnya, dari ketujuh kategori orang yang akan mendapatkan pahala besar dari Allah, dapat kita rangkum ke dalam kategori orang-orang yang peduli dalam ikut mencerdaskan umat, khususnya melalui pendidikan, orang-orang yang memiliki kepedulian lingkungan yang besar, serta memiliki kepedulian social yang besar. Inilah problem yang sesungguhnya sedang kita hadapi saat ini. Bagaimana rusaknya lingkungan hanya karena ulah manusia. Ia juga pada gilirannya akan berimplikasi pada suasana social yang seimbang, serta kecerdasan masyarakat sesuai yang diharapkan.

 

Sumber: Bandung Agamis, Edisi No. 292/Vol.X/9 Rabiul Awal 1438 H (MUI Kota Bandung), oleh: KH. Asep Jamaluddin.

Komentar

Tentang Mr.Izuaf

Foto Profil dari Mr.Izuaf
Pemuda jomblo kelahiran Bandung.

Lihat juga

Masuk Surga Dengan Selamat

Setelah lebih dari 12 tahun Rasulullah saw. berdakwah di Makkah, beliau mendapatkan penentangan yang besar …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *