Kamis , 24 Agustus 2017
Beranda > Artikel > CERDAS DALAM MENGGUNAKAN MEDIA SOSIAL

CERDAS DALAM MENGGUNAKAN MEDIA SOSIAL

Bismillaahirrahmaanirrahiim,

Dalam kurun waktu kurang lebih 25 tahun dunia manusia berbalik 180 derajat, terkhusus dunia yang dialami anak-anak sekolah dasar. Kalau dulu di Era 90an sepulang sekolah mereka bermain congklak, petak umpet, ngadu kaleci, gatrik dsb, sangat kontras dengan anak sekolah di zaman modern ini, sambil mengunyah permen yang mereka beli, dalam genggaman tangan mereka tidak lepas dari sebuah benda berukuran mini namun memiliki kemampuan yang luar biasa, itulah smartphone(telepon pintar).

Sebuah benda yang dulunya hanya dimiliki orang dewasa, hari ini anak sekolah dasar pun dengan mudah memainkanya bahkan lebih ahli dari orang tuanya. Sebuah benda yang dulunya hanya digunakan untuk “say hello” lewat suara dan pesan langsung, hari ini kita bisa bertatap muka langsung dengan orang-orang yang jaraknya jutaan kilometer jauh dari kita. Sebuah benda yang dulunya tidak begitu sering dimainkan, hari ini orang begitu rajin mengecek sesuatu didalamnya karena kita bisa mengakses informasi dari berbagai penjuru dunia.

Secara global kita dihadapkan pada 3 hal:

Pertama, dunia yang semakin kecil, bukan dalam segi teritorial atau wilayah maritim, yang dimaksud ialah dahulu manusia begitu jumud, terkurung sangat sulit untuk menerima informasi, takut untuk melintas wilayah, hari ini dunia terasa begitu kerdil, tanpa kita minta pun informasi-informasi mulai dari permasalahan besar dunia hingga yang terkecil sudah berada dalam genggaman kita dan begitu mudah diakses.

Kedua, dunia yang semakin cepat, kalau dulu Nabi Muhammad Shalallaahu ‘alaihi wa Sallam hijrah dari Makkah dan Madinah butuh waktu beberapa hari, hari ini cukup dengan waktu sekitar 4 jam saja. Pagi di Singapura, siang di Yogyakarta, malam di Pontianak, esoknya di Amsterdam Belanda itu sudah menjadi hal yang biasa dan mudah bagi orang-orang yang kaya nan sibuk.

Ketiga, kita dihadapkan pada dunia yang terkoneksi, dimana media memiliki peran yang begitu penting mengendalikan dunia. Di Era reformasi, informasi-informasi begitu dijaga, diseleksi begitu ketat sehingga Good news is a good news (berita baik adalan berita baik).

Berbeda dengan pasca reformasi, kemajuan teknologi yang barengi dengan banyaknya media informasi yang menyediakan akses mudah bagi setiap manusia, memaksa mereka untuk menerima berbagai informasi baik sekaligus buruk.

Namun kebanyakan orang lebih menyukai berita-berita picisan yang tidak berkualitas dan tidak jelas asal-usulnya. Orang-orang lebih senang melihat gosip-gosip mengenai Rafi Ahmad, Ayu Tingting, Luna Maya dsb. Dari pada mengapresiasi guru-guru, dokter-dokter, ulama-ulama, yang menjadi relawan, mengajarkan, mengobati, menyelamatkan generasi bangsa, membantu orang yang membutuhkan di berbagai pelosok bahkan sampat batas wilayah Negara yang sayangnya luput dari media. Sehingga hari ini berubah dari Good news is a good news menjadi Good news is a bad news (berita baik adalah berita bohong/buruk).

Dengan media hari ini orang bisa begitu cinta mati meniadakan yang lain dengan melihat kehebatan, kecantikan, ketampanan dan sehala hal yang baik mengenai seorang yang oleh media perlihatkan. Sebaliknya orang bisa begitu benci terhadap segala hal buruk yang diperlihatkan oleh media, itu artinya mereka yang pandai menguasai media adalah mereka yang bisa menguasai dunia. Allah beri peringatan dalam surat Al-Maidah ayat 8:

َلَا يَجۡرِمَنَّكُمۡ شَنَ‍َٔانُ قَوۡمٍ عَلَىٰٓ أَلَّا تَعۡدِلُواْۚ ٱعۡدِلُواْ هُوَ أَقۡرَبُ لِلتَّقۡوَىٰ

“Janganlah kebencianmu terhadap satu kaum mendorong kamu untuk tidak berlaku adil, berlaku adilah, itu lebih dekat pada ketakwaan.”

Oleh sebab itu di Era modern ini kita diharuskan selektif terhadap berita yang datang silih berganti, banyak orang secara tak sadar terpengaruhi oleh berita-berita, karena emosi menguasai, maka ilmu akan terhalang. Mendasarkan pada informasi yang salah, maka akan menimbulkan gerakan yang salah.

Jadikan media itu sebagai media dakwah, untuk menyusun strategi dakwah yang lebih mobile, lebih efektif dan komprehensif. Media social facebook contohnya, dimana ada sekitar 1,4 miliar pengguna aktif dari seluruh penjuru dunia. Maka saat kita menyatakan sebuah berita bohong, atau membagikan berita dusta, mengandung hinaan, cacian, provokasi dan itu tersampaikan ke seluruh pengguna aktif facebook, maka bisa dibayangkan seberapa besar dosa yang ia lakukan hanya dengan sekali sentuhan. Sebaliknya, saat kita gunakan media social itu dengan menyampaikan kebenaran dan itu sampai pada jutaan pasang mata, maka bisa dibayangkan pahala yang teramat besar hanya dalam sekali sentuhan.

Informasi bisa kita terima apabila memenuhi 2 kriteria. Pertama, sesuaikanlah dengan ilmu dan literature-literatur yang jelas. Kedua, beranilah untuk ber-tabayun meminta penjelasan yang sebenarnya terhadap pihak terkait, khawatir terjadi berbagai macam suudzan dan fitnah yang secara tak sadar berasal dari sangkaan kita yang tak berdasar.

BERANILAH KARENA ILMU, BUKAN KARENA EMOSI

 

Sumber: Bulletin Dakwah Edisi 09/Thn 01/Ahad, 4 Desember 2016. RISALAH PELAJAR, oleh: Ilham Habiburohman

Komentar

Tentang Mr.Izuaf

Pemuda jomblo kelahiran Bandung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lewat ke baris perkakas