Rabu , 28 Juni 2017
Beranda > Kajian > Kewajiban Muslim Terhadap Bagian-bagian Agama

Kewajiban Muslim Terhadap Bagian-bagian Agama

Bismillaahirrahmaanirrahiim,

Dari Abu Tsa’labah Al-Khusyani Jurstum bin Nasyir r.a, dari Rasulullah beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah SWT telah memfardhukan beberapa hal, maka janganlah kamu menyia-nyiakannya, telah menetapkan beberapa batasan, maka jangan kamu langgar, telah mengharamkan beberapa hal, maka jangan kamu terjang dan diam terhadap beberapa hal sebagai wujud kasih sayang kepada kami, bukan karena lupa, maka jangan kamu cari-cari.” (Hadits hasan, diriwayatkan oleh Ad-Daruquthni dalam kitab Sunan nya juz.IV, hal.184 dan diriwayatkan oleh yang lainnya.)

Takhrij Hadits

Hadits Arba’in Nawawiyah yang ke-30 ini diriwayatkan oleh beberapa ahli hadits, di antaranya Ath-Thabrani dalam kitab Al-Mu’jam Ash-Shaghir (1111), kitab Al-Mu’jam Al-Ausath (7461), kitab Al-Mu’jam Al-Kabir (589, 677), dan Musnad Asy-Syamiyyin (3492). Selain itu, juga diriwayatkan oleh Ad-Daruquthni dalam kitab Sunan nya (4396) dan oleh Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra (19725, 19726).

Beberapa pakar hadits menilai hadits ini sebagai hadits hasan lighairihi, maksudnya, hadits ini, dengan seluruh jalur periwayatannya, kalau dinilai secara sendiri-sendiri, maka nilainya adalah dha’if. Akan tetapi kerena ia mempunyai banyak jalur periwayatan, maka nilainya bisa naik menjadi hasan.

Di antara para ulama hadits yang menilai hadits Arba’in Nawawiyah yang ke-30 ini sebagai hadits hasan adalah: Al-Hafizh Abu Bakar As-Sam’ani, Imam Nawawi, Al-Hafizh Al-‘Iraqi, Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani. Juga dinilai hasan oleh Syekh Nashiruddin Al-Albani saat beliau men-takhrij kitab Al-Iman karya Ibnu Taimiyah Rahimahullah.

Karena nilai hadits ini adalah hasan, maka ia termasuk hadits maqbul, maksudnya bisa diterima sebagai dalil dan hujjah.

Kedudukan Hadits

Abu Bakar As-Sam’ani (506-562 H) berkata,”Hadits ini merupakan sebuah pokok Agama yang besar.”

Sebagian ulama berkata,”Tidak satu pun hadits Rasulullah yang secara sendirian mampu menghimpun pokok-pokok ilmu dan cabang-cabangnya yang seperti hadits Abu Tsa’labah ini.”

Abu Watsilah Al-Muzani berkata,”Dalam hadits ini Rasulullah menghimpun dan memadatkan kandungan Agama dalam empat kalimat saja.”

Selanjutnya, As-Sam’ani berkata,”Siapa yang mengamalkan hadits ini, ia telah memperoleh pahala dan aman dari siksa, sebab, siapa pun yang melaksanakan segala yang fardhu, menjauhi segala yang haram, bergerak tidak melampaui batasan-batasan yang ada dan tidak mencari-cari yang tidak ada di hadapannya, maka ia telah memenuhi seluruh bagian keutamaan dan melengkapi agama. Sebab syariat tidak akan keluar dari empat klasifikasi yang tersebut dalam hadits ini.”

Kandungan Hadits

Secara garis besar hadits Arba’in Nawawiyah yang ke-30 ini menjelaskan tentang klasifikasi kandungan agama Islam dan sikap seorang Muslim terhadap masing-masing dari klasifikasi ini, yaitu:

  1. Ada bagian-bagian dari agama Islam yang disebut faraidh, yaitu segala ajaran agama Islam yang mengharuskan dan mewajibkan seluruh kaum Muslimin untuk melaksanakannya dan tidak boleh menyia-nyiakannya. Baik faraidh ini bersifat ‘ain-maksudnya, setiap individu Muslim berkewajiban melaksanakannya secara sendiri-sendiri, maupun faraidh yang bersifat kifayah, yaitu kewajiban agama yang dibebankan kepada kaum Muslimin secara kolektif, yang menuntut adanya sejumlah orang sampai ke tingkat mencukupi untuk melaksanakannya. Jika sejumlah orang yeng mencukupi ini telah melaksanakan, maka mereka mendapatkan pahala. Sedangkan yang tidak melaksanakan, tidak terkena dosa. Namun, jika belum ada yang melaksanakan, atau sudah ada yang melaksanakan, namun belum sampai ke tingkat cukup, maka seluruh kaum Muslimin, selain yang melaksanakan tentunya, mendapatkan dosa. Perlu diketahui, kifayah secara bahasa berarti cukup dan memadai. Contoh dari faraidh ‘ain adalah shalat lima waktu dalam setiap hari dan semalam. Shalat lima waktu ini wajib dijalankan oleh setiap Muslim dalam kapasitas dirinya sebagai seorang Muslim. Sedangkan contoh mudah untuk memberi gambaran dari faraidh yang kifayah adalah menshalati mayyit. Jika ada seorang Muslim meninggal dunia, maka seluruh kaum Muslimin terkena kewajiban untuk menshalatinya, namun, jika sudah ada satu orang saja yang menshalati, maka gugurlah kewajiban dan dosa atas kaum Muslimin lainnya.
  2. Ada bagian-bagian dari agama Islam yang disebut hudud, yaitu batasan-batasan dan ketentuan-ketentuan Allah SWT. Terkait dengan hudud ini, kaum Muslimin dilarang melampauinya atau melanggarnya.
  3. Ada bagian-bagian dari agama Islam yang disebut muharramat, yaitu segala hal yang oleh Allah SWT dinyatakan sebagai haram. Kewajiban seorang Muslim dalam hal ini adalah menjauhinya dan ia dilarang mendekatinya, apalagi melanggar dan menerjangnya atau melakukannya.
  4. Ada bagian-bagian dari urusan kehidupan ini yang oleh Allah SWT didiamkan, dalam arti tidak ada petunjuk, atau firman secara tekstual terhadapnya, baik teks yang mengatakan fardhu maupun teks yang mengharamkan. Terhadap bagian ini, tugas seorang Muslim adalah dilarang mencari-cari dan mengorek-ngoreknya. Bagian inilah yang oleh sebagian ulama disebut dengan istilah maskut ‘anhu atau mathiqatul ‘afwi (kawasan atau bagian yang didiamkan oleh Allah SWT). Apa maksudnya?

Insya Allaah, saya akan membahasnya ditulisan berikutnya atau mungkin penulis lain yang akan melanjutkannya.

Kajian hadits : Musyafa Ahmad Rahim, Lc, MA РKewajiban Muslim terhadap bagian-bagian Agama (Majalah Ummi No.5/XXIII/September 2011/1432 H)

Komentar

Tentang Mr.Izuaf

Foto Profil dari Mr.Izuaf
Pemuda jomblo kelahiran Bandung.

Lihat juga

Masuk Surga Dengan Selamat

Setelah lebih dari 12 tahun Rasulullah saw. berdakwah di Makkah, beliau mendapatkan penentangan yang besar …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lewat ke baris perkakas