Jumat , 24 November 2017
Beranda > Kajian > Mencari Sahabat Yang Membawa Ke Surga

Mencari Sahabat Yang Membawa Ke Surga

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (al-Hujurat : 13)

Sehebat dan sesempurna apapun manusia, sebagai makhluk sosial, manusia diciptakan dengan mempunyai berbagai keterbatasan, sehingga ia membutuhkan sesamanya untuk memenuhi kebutuhannya. Hubungan sesama manusia memiliki berbagai bentuk, diantaranya hubungan keluarga, kerabat, tetangga, masyarakat, dan pertemanan.

Diantara sekian banyak bentuk hubungan sesama manusia, pertemanan merupakan bentuk hubungan yang dirasa spesial. Ianya terbentuk dari interaksi positif yang konsisten sehingga terbentuklah rasa nyaman dan saling percaya. Bahkan dalam taraf tertentu, hubungan ini lebih erat daripada hubungan keluarga. Terkadang seorang teman lebih dipercaya daripada keluarga, seorang sahabat lebih dicintai daripada saudara.

Namun makna seorang teman bukanlah sekedar teman makan, teman kuliah, teman nongkrong, atau teman bermain. Hanya teman sejati lah yang benar-benar memiliki makna, yang memiliki kontribusi besar dalam kehidupan kita di dunia dan di akhirat.

Selektif Dalam Memilih Teman

“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (at-Taubah : 119)

Ayat Al-Qur’an diatas memerintahkan kepada orang-orang mukmin untuk senantiasa menyertai pemegang kebenaran. Sikap selektif dalam memilih teman memiliki beberapa keuntungan, diantaranya adalah dapat membentuk personal branding dan juga menciptakan karakter dan habit baik yang mengantarkan seseorang menuju kesuksesan.

“Tak perlu kamu tanyakan tentang kepribadian seseorang, namun cukup lihatlah teman-teman dekatnya”. Begitulah pepatah Arab menjelaskan kepada kita bahwa kepribadian seseorang tercermin dari pergaulannya. Inilah yang saya maksudkan bahwa hubungan pertemanan bisa membentuk personal branding pada diri seseorang.

Ada sebuah ungkapan mengatakan : “Siapa yang bergaul dengan orang-orang yang berbudi luhur, akan mulia. Dan siapa yang bergaul dengan orang-orang rendah akhlaknya, pasti akan terhina”. Berteman dengan orang gak jelas bisa membuat anda ‘ketularan’ gak jelas, berteman dengan orang sukses mudah-mudahan akan ‘kecipratan’ sukses.

Karena interaksi sosial bersifat saling mempengaruhi, maka pertemanan sejatinya cukup untuk membentuk karakter seseorang. Sabda Rasulullah saw. berikut mungkin bisa menjadi sebuah analogi yang mencerahkan :

“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Maka seorang mukmin sejati hendaknya bersikap selektif dalam memilih teman dan berhati-hati dalam pergaulan. Bertemanlah dengan orang yang baik agamanya, karena Rasulullah saw. bersabda : “Seseorang itu adalah mengikut agama temannya, oleh karena itu hendaklah ia memperhatikan siapa yang menjadi temannya.” (HR. Abu Daud).

“Jangan berkawan dengan seseorang yang kelakuannya tidak membangkitkan semangat taat kepada Allah dan tidak memimpin engkau ke jalan Allah.” (Al-Hikam).

Ukhuwah Islamiyah

Islam mengajarkan bahwa hubungan persaudaraan sejati terletak pada keimanan. Allah swt. menegaskan bahwa “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara,…” (al-Hujurat : 10), Ukhuwah Islamiyah bukanlah hubungan yang didasarkan kepada nasab, kesukuan, nasionalisme, atau ras. Melainkan nilainya jauh lebih mulia semua itu.

“Perumpamaan persaudaraan kaum muslimin dalam cinta dan kasih sayang di antara mereka adalah seumpama satu tubuh. Apabila satu anggota tubuh sakit maka mengakibatkan seluruh tubuh menjadi demam dan tidak bisa tidur.” (HR. Muslim).

“Seorang Muslim adalah saudara muslim lainnya, ia tidak menzaliminya, merendahkannya, menyerahkan (kepada musuh) dan tidak menghinakannya.” (HR. Muslim).

Masya Allah, sungguh indah hubungan persaudaraan sesama muslim. Saling memuliakan satu-sama lain, saling mencintai karena Allah, tidak menzalimi, tidak merendahkan, susah senang dirasakan bersama. Inilah bentuk persahabatan sejati yang mengharapkan ridha ilahi, pertemanan yang bernilai jauh lebih tinggi daripada hubungan nasab. Seorang yang tadinya tidak memiliki hubungan darah, kini menjadi saudara karena iman.

Bersama-sama Menuju Surga

“Diriwayatkan bahwa ada seorang laki-laki datang berkunjung kepada saudaranya yang berada di kampung lain. Di tengah perjalannya Allah mengutus seorang Malaikat untuk menemuinya. Setelah bertemu, Malaikat bertanya: “Hendak pergi ke manakah engkau?”, orang itu menjawab: “Saya hendak berkunjung menemui saudaraku di kampung ini?”, Malaikat bertanya: “Adakah dia punya hutang kepadamu dan engkau hendak menagihnya?” Orang tersebut menjawab: “Tidak, aku hendak mendatanginya hanya karena aku mencintainya karena Allah”. Malaikat berkata: “Ketahuilah, saya adalah Malaikat yang diutusan oleh Allah kepadamu, dan sesungguhnya Allah telah mencintai-mu sebagaimana engkau mencitai saudaramu karena-Nya”. (HR. Muslim dan Ahmad)

Diriwayatkan, bahwa apabila penghuni syurga telah masuk kedalam syurga, lalu mereka tidak menemukan sahabat-sahabat mereka yang dahulu selalu bersama mereka saat didunia. Mereka bertanya tentang sahabat-sahabat mereka kepada Allah: “Yaa Rabb, kami tidak melihat saudara-saudara kami yang sewaktu di dunia shalat bersama kami, puasa bersama kami,….” Maka Allah berfirman: “pergilah ke neraka, lalu keluarkan sahabat-sahabatmu yang di hatinya ada iman walaupun hanya sebesar zarrah”. (Riwayat Ibnul Mubarak dalam kitab “az-Zuhd”)

Al-Hasan Al-Bashri berkata: “perbanyaklah sahabat-sahabat mukmin-mu, karena mereka memiliki syafa’at pada hari kiamat”.

Ibnul Jauzi pernah berpesan kepada sahabat-sahabatnya sambil menangis: “Jika kalian tidak menemukan aku nanti di syurga bersama kalian, maka tolonglah bertanya kepada Allah tentang aku: wahai Rabb kami, hambamu fulan, sewaktu di dunia selalu mengingatkan kami tentang Engkau, maka masukkanlah dia bersama kami di syurga”

Sahabat, Sudahkan pertemanan kita didasari cinta karena Allah? Saling menasihati, saling mengingatkan, saling memotivasi dalam ketaatan kepada Allah? Bersama-sama dalam menuntut ilmu dan mengamalkannya?

Sudahkah kita memiliki teman-teman yang kelak memberi syafa’at di akhirat?

#‎uhibbukum_fillah

“Teman yang paling baik adalah apabila kamu melihat wajahnya, kamu teringat akan Allah, mendengar kata-katanya menambahkan ilmu agama, dan melihat gerak-geriknya teringat mati.”

Komentar

Tentang Amr Abdul Jabbar

Bukan siapa siapa

Lihat juga

Tatacara Berwudhu’nya Rasulullah

Bismillaahirrahmaanirrahiim, Bila dikaitkan dengan bahasa, wudhu’ bermakna kebersihan dan keindahan (Lihat Al Qamus Al Muhith …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lewat ke baris perkakas