Senin , 25 September 2017
Beranda > Artikel > Jangan Rampas Masa Bermain Anak

Jangan Rampas Masa Bermain Anak

Bismillahirrahmanirrahim..

Bunda – bunda dan pembaca yang dimuliakan Allah, ada masalah yang fundamental yang terjadi di masyarakat khusunya di Indonesia. Orang tua biasanya menganggap anak yang pintar berhitung dan membaca di usia dini merupakan kebanggaan tersendiri, kemampuan membaca dan menulis dan berhitung atau calistung bukan hanya menjadi kebanggaan orangtua namun merupakan tuntutan bagi anak yang akan menduduki kelas satu SD. Bahkan disebagian besar SD yang ada di Jakarta mengharuskan anak yang akan masuk ke SD tersebut.

Maka sebagian besar orangtua memberikan les private calistung kepada anak, bahkan ada yang memporsir waktu belajar untuk anak – anaknya, contohnya saja ada anak didik saya yang pagi – paginya sekolah TK, selepas sekolah les baca, sorenya les ngaji malamnya mengerjakan PR dari TK.

Bunda yang mulia, coba kita bayangkan setiap hari dari pagi sampai malam anak dituntut untuk belajar, sebagian besar waktu yang dimiliki anak dihabiskan untuk belajar, sebagian kecil waktunya untuk bermain, sebagian kecil hanya sebagian kecil.

Bunda yang mulia, apakah benar ketika kita menuntut belajar secara maksimal kepada anak kita diusia dini dengan merampas masa bermainnya? Belajar dan bermain tentu merupakan dua kata masing – masing mempunyai makna yang berbeda, namun apa yang menajadikan belajar sesuatu yang diprioritaskan di masa dini?

Permainan (play) adalah suatu kegiatan yang menyenangkan yang dilaksanakan untuk  kepentingan kegiatan itu sendiri ( Santrock, 2002). Erikson dan Freud : Permainan adalah suatu bentuk penyesuaian diri manusia yang sangat berguna menolong anak menguasai kecemasan dan konflik. Piaget melihat permainan sebagai suatu metode yang meningkatkan perkembangan kognitif anak-anak.

Sepanjang masa anak – anak bermain sangat mempengaruhi penyesuaian pribadi  dan social anak. Sebagai contoh kecilnya adalah seorang anak akan belajar mengahargai temannya ketika bermain, belajar berbagi mainan, belajar mengendalikan emosinya. Bermain membantu anak mempelajari keterampilan social – emosional dirinya yang akan menjadi bekal kelak menuju masa dewasanya.

Berikut merupakan bukti dari pengaruh bermain terhadap perkembangan anak menurut Elizabeth B. Hurlock dalam bukunya yang berjudul Child Development.

1. Perkembangan fisik

Bermain aktif untuk anak penting bagi anak untuk mengembangakan otot dan melatih seluruh bagian tubuhnya. Bermain juga berfungsi sebagai penyaluran tenaga yang berlebihan yang bila terpendam terus akan membuat anak tegang, gelisah, dan mudah tersinggung.

2. Dorongan berkomunikasi

Agar dapat bermain dengan baik bersama anak yang lain, anak harus belajar berkomunikasi dalam arti  mereka dapat mengerti dan sebaliknya mereka harus belajar mengerti apa yang dikomunikasikan anak lain.

3. Penyaluran bagi energi emosional

Bermain  merupakan sarana bagi anak untuk menyalurkan ketegangan yang disebabkan oleh pembatasan lingkungan terhadap perilaku mereka.

4. Penyaluran bagi energi

Kebutuhan dan keinginan yang tidak dapat dipenuhi dengan cara lain sering kali dapat dipenuhi dengan bermain. Anak yang tidak mampu mencapai peran pemimpindalam kehidupan nyata mungkin akan memperoleh pemenuhan keinginan itu menjadi pemimpin tentara mainan.

5. Sumber belajar

Bermain member kesempatan untuk mempelajari berbagai hal melalui buku, televise, atau menjelajah lingkungan yang tidak diperoleh anak dari belajar di rumah atau di sekolah.

6. Rangsangan bagi kreativitas

Melalui eksperimentasi dalam bermain, anak – anak menemukan bahwa merancang sesuatu yang baru dan berbeda dapat menimbulkan kepuasan. Selanjutnya mereka dapat mengalihkan minat kreatifnya ke situasi diluar dunia  bermain.

7. Perkembangan wawasan diri

Dengan bermain anak mengetahui tingkat kemampuannya dibandingkan dengan temannya bermain. Ini  memungkinkan mereka unntuk mengembangkan konsep dirinya dengan lebih pasti dan nyata.

8. Belajar bermasyarakat

Dengan bermain bersama anak lain, mereka belajar bagaimana membentuk hubungan social dan bagaimana menghadapi dan memecahkan masalah yang timbul dalam hubungan tersebut.

9. Standar moral

Walaupun anak belajar di rumah dan si sekolah tentang apa saja yang dianggap baik dan buruk oleh kelompok, tidak ada pemaksaan standar moral paling teguh selain dnegan kelompokn bermain.

10. Belajar bermain sesuai dengan peran jenis kelamin

Anak belajar di rumah dan di sekolah mnegenai apa saja peran jenis kelamin yang disetujui. Akan tetapi, mereka segera menyadari bahwa mereka juga harus menerimanya  bila ingin menjadi anggota kelompok bermain.

11. Perkembangan ciri kepribadian yang diinginkan

Dari  hubungan dengan anggota kelompok teman sebaya dalam bermain, anak belajar bekerjasama, murah hati, jujur, sportif, dan disukai orang.

Nah bunda – bunda dan pembaca sekalian yang dirahmati Allah, itulah manfaat bermain bagi anak usia dini, selain itu bermain mempunyai manfaat lain yaitu, mengoptimalkan pertumbuhan seluruh bagian tubuh seperti tulang, otot dan organ – organ. Selain itu aktivitas yang dilakukan dapat meningkatkan nafsu makan anak, anak juga dapat menemukan arti benda – benda yang ada disekitarnya, juga dapat mengembangkan kemampuan intelektualnya.

Bunda – bunda dan pembaca yang dirahmati oleh Allah, setelah kita ketahui manfaat bermain bagi anak usia dini semoga pemikiran kita semua terbuka selanjutkan tidak lagi meng – cut anak untuk bermain. Pesan dari saya, jangan rampas masa bermain anak, biarkan ia bermain dan berkembang disusianya bereksplorasi dengan imajinasinya dengan pengawasan dari kita selaku guru atau orangtua tentunya.

***

Daftar Pustaka

-Adriana, Dian. 2013. Tumbuh Kembang & Terapi bermain pada anak. Jakarta : Salemba Medika

-Hurlock, Elizabeth B. Child Development (Perkembangan Anak) Jilid 1. Jakarta : Erlangga

-Imania Eliasa, Eva. PENTINGNYA BERMAIN BAGI ANAK USIA DINI. Staff.uny.ac.id . diakses pada 19 Maret 2016 pada jam 23.00 WIB

Komentar

Tentang Yu'mim Billah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lewat ke baris perkakas