Senin , 25 September 2017
Beranda > Kajian > Mewaspadai Pemikiran Islam Liberal

Mewaspadai Pemikiran Islam Liberal

Judul Asli : JIL; Islam Kok Liberal ??? *)

Oleh : Amr Abdul Jabbar


“Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. “Kami mendengar, dan kami patuh“. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. An-Nur : 51)

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. Al-Ahzab : 36)

***

  • Islam berarti : tunduk, patuh, berserah diri kepada Allah. (QS. 2:131; 16:81; 27:44; 37:103; 40:66; 49:14)
  • Oleh karena itu kata muslim (jamak : muslimun / muslimin) berarti orang yang tunduk, patuh, berserah diri (QS. 2:128,133,136; 3:52,64,67; 5:111; 7:126; 10:72,84,90; 11:14; 16:89,102; 21:108; 27:31,38,42,81,91; 29:46; 30:53; 39:12; 43: 69; 46:15; 51:36; 66:5)
  • Liberal berarti : berpikir dan bertindak bebas, bebas dari setiap otoritas.
  • Liberalis : orang liberal; Liberalisme : paham liberal; Liberalistis : bersifat liberal; Liberalisasi : usaha untuk menerapkan paham liberal.
  • Liberalisme Agama : “Memahami nash-nash agama (al-Qur’an dan Sunnah) dengan menggunakan akal pikiran yang bebas, dan hanya menerima doktrin-doktrin agama yang sesuai dengan akal pikiran semata.” (Fatwa MUI Nomor: 7/Munas VII/MUI/11/2005)
  • Liberalisme Agama sebagaimana disebutkan diatas sungguh bertentangan dengan nash-nash Al-Quran, As-Sunnah, dan tidak sesuai dengan pemahaman para salafus shalih.
  • 3 Pemikiran Islam Liberal : Sekularisme, Pluralisme, dan Liberalisme

Isu-isu Liberalisme :

  • Kebebasan beragama (netral agama, pluralisme, aliran sesat, pindah agama, atheisme)
  • Kebenaran bersifat relatif (tidak ada kebenaran mutlak, meskipun berasal dari Tuhan)
  • Pergaulan bebas & kebebasan ber-ekspresi (sex bebas, narkotika, miras, judi)
  • Pernikahan (beda agama, sesama jenis, poligami)
  • Pergaulan sesama jenis (Homoseksualitas & Lesbianisme)
  • Kesetaraan gender (warisan, kesaksian, pernikahan, kepemimpinan)
  • Ajaran Islam dan Wahyu (Syari’ah, Fiqh, Al-Qur’an dan As-Sunnah) adalah hasil budaya Arab zaman dahulu yang sudah usang dan tidak sesuai dengan zaman modern
  • Sekularisme (negara seharusnya bersikap netral agama, agama adalah masalah pribadi antara manusia dengan Tuhan yang berupa ritual semata, negara tidak boleh ikut mengatur)

Bahaya Liberalisme :

  • Merusak Aqidah (kepercayaan dasar) Islam
  • Mengaburkan ajaran agama dan menimbulkan keragu-raguan dalam agama
  • Membingungkan logika dan akal sehat
  • Melahirkan kemerosotan akhlak (karakter-budi pekerti)
  • Menyebabkan kerusakan budaya, nilai dan norma

Agar tidak liberal

  • Indoktrinasi Aqidah Islam yang benar
  • Mempelajari Islam sesuai pemahaman para salafus shalih (sahabat dan tabi’ien)
  • Meyakini kebenaran mutlak berupa wahyu yang berasal dari Allah (Al-Qur’an dan As-Sunnah)
  • Mengasah akal dan logika sehat
  • Akal (relatif) harus tunduk pada wahyu (kebenaran mutlak)

Logika

  • Islam = tunduk ; Liberal = bebas. Berarti Islam >< Liberal

Kata “Islam” tidak bisa disandingkan dengan kata “Liberal”. Karena makna keduanya kontradiktif (bertentangan)

  • Liberalisme menyuarakan kebebasan, padahal tidak ada yang benar-benar “bebas”.

Bolehkah seorang pegawai kantor -atas dasar kebebasan- masuk kerja dengan terlambat dan tanpa mengenakan seragam? Bolehkah seseorang membunuh orang lain atas dasar kebebasan? Atau memperkosa atas dasar kebebasan?.

Masalah dunia saja ada aturan dan undang-undangnya, apalagi masalah agama.

  • Tidak ada batasan yang jelas atas “kebebasan” yang diusung para Liberalis. Meskipun para liberalis mengklaim bahwa batasan mereka adalah HAM, Humanisme, Hukum Internasional, dsb. (itu semua hanyalah kedok)
  • Liberal tapi tidak Liberalistis.

Atas dasar HAM dan kebebasan, para liberalis membela “aliran sesat” dan menuduh mayoritas ummat Islam bersikap diskriminatif. Lalu dimanakah “kebebasan” mayoritas ummat Islam? Dengan demikian, paham liberal sesungguhnya mengkhianati ideologi liberalisme itu sendiri. Bagaimana mungkin membela “kebebasan” sebagian kecil orang dengan mengekang “kebabasan” mayoritas?

  • Liberalisme mengusung kebenaran relatif. Sehingga penganut kepercayaan tertentu tidak boleh menyatakan bahwa kepercayaan nya lah yang paling benar serta tidak boleh memvonis bahwa kepercayaan orang lain adalah menyimpang dan sesat.

Bagaimana mungkin sekelompok orang yang tidak menerima NKRI, Pancasila dan UUD 1945, mengibarkan bendera selain merah putih, menamakan diri mereka OPM atau RMS, mengadakan pelatihan militer dan menyerang infrastruktur negara tidak dikatakan separatis, subversif, pemberontak. Oleh karena itu, sangat tepat jika: semua ajaran yang berbeda dan menyimpang dari ajaran pokoknya dianggap sesat.

  • Islam adalah agama wahyu yang pokok ajarannya tidak berubah sejak zaman Nabi Adam. Syari’at Islam yang diajarkan Nabi Muhammad tidak mengalami perubahan oleh zaman dan tempat. Oleh karena itu, dimana pun dan kapan pun ummat Islam pasti rukuk dengan membungkuk kedepan, berwudhu dengan menggunakan air, mengacungkan telunjuk saat tasyahud (tahiyyat), dan menyelenggarakan jenazah dengan cara yang sama.

Oleh karena itu, jika ada yang mengaku islam tetapi saat rukuk tidak membungkuk kedepan, berwudhu dengan oli, dan mengacungkan jempol saat tahiyyat, maka bisa dipastikan itu adalah ajaran sesat yang menyimpang

  • Liberalisme mengusung paham netral agama dan pluralisme (semua agama benar). Padahal sikap netral agama adalah tidak mungkin diterapkan. Bagaimana mungkin seseorang meyakini bahwa Yesus mati di tiang salib, namun pada saat yang bersamaan ia juga meyakini bahwa Yesus tidak disalib, apalagi mati di tiang salib. Pasti ada salah satu pernyataan yang benar, tidak mungkin keduanya benar.
  • Liberalisme menentang cara berfikir dualis (benar-salah). Padahal kalau bukan benar dan bukan salah, lalu apa namanya? Kalau seseorang dikatakan lajang, pasti tidak/belum kawin. Kalau dikatakan kawin, pasti tidak lajang. Kalau lajang bukan, kawin pun tidak. Lalu apa namanya?
  • Dsb

Refleksi

  • Ketika terjadi penyerangan ummat Islam terhadap pemukiman Ahmadiyah, Syi’ah dan aliran sesat lainnya, JIL mengutuk keras atas nama HAM
  • Ketika terkuaknya kasus pornografi dan narkotika yang melibatkan beberapa selebriti, atas nama kebebasan, JIL menanggapinya dengan positif
  • Ketika orang kafir menghina Nabi Muhammad SAW. dengan menciptakan karikatur dan kartun yang sinis, JIL membelanya atas nama kebebasan berekspresi
  • Ketika kaum homoseks dan lesbian menuntut dilegalkannya pernikahan sesama jenis, atas nama humanisme JIL merestuinya
  • Ketika syari’ah Islam ditegakkan di Aceh dan diberlakukannya hudud (hukum pidana islam), atas nama kemanusiaan JIL menentangnya

________

  • Saat muslimah di Prancis diperlakukan secara diskriminatif karena menutup auratnya dengan bercadar, kemanakah JIL ?
  • Saat anak-anak Palestina dibantai oleh Israel, kemanakah humanisme ?
  • Saat seorang ustadz berpoligami, mengapa dikecam? Kemanakah kebebasan?
  • Saat seorang tawanan perang muslim atau seorang tersangka “teroris” dilecehkan martabat kemanusiaannya, kemanakah HAM ?
  • Apakah para liberalis itu “lupa” dengan kebebasan yang mereka perjuangkan?

Lalu HAM yang bagaimana yang mereka maksud? Kebebasan seperti apa yang mereka perjuangkan? Humanisme seperti apa yang mereka inginkan?

***

Banjar, 12 Februari 2013

‘Amr ‘Abdul Jabbar

____________

  • Kebenaran mutlak hanyalah milik Allah SWT. semata
  • Materi ini hanyalah analisis ilmiah semata, yang merupakan hasil olah pikir penulis.
  • Pembaca diharapkan bersifat kritis dan bijaksana dalam mencerna sebagian atau seluruh materi dalam artikel ini.
  • Pembaca juga diharapkan membaca bahan lain sebagai pembanding.

 

______________

*) Disampaikan pada acara Dauroh Tafaqquh Fiddien RG-UG Mu’allimien di Pesantren Persatuan Islam 85 Banjar, Selasa, 12 Februari 2013

Komentar

Tentang Amr Abdul Jabbar

Bukan siapa siapa

Lihat juga

Tatacara Berwudhu’nya Rasulullah

Bismillaahirrahmaanirrahiim, Bila dikaitkan dengan bahasa, wudhu’ bermakna kebersihan dan keindahan (Lihat Al Qamus Al Muhith …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lewat ke baris perkakas