Jumat , 24 November 2017
Beranda > Kajian > Risalah “Ulang Tahun”

Risalah “Ulang Tahun”

Dalam 3 tahun terakhir ini, setiap tanggal 9 Juni pasti aku nonaktif-kan wall message facebook ku. Rupanya itu sudah menjadi bagian dari habit sebagai upaya meminimalisir notifikasi gak penting yang pasti membludak di facebook setiap makhluk yang tahunnya berulang. Bahkan 2 tahun kebelakang aku posting foto yang cukup provokatif untuk membendung serangan lewat inbox. Tapi masih ada aja yang gagal faham, atau kurang fokus (#ada_aqua). you know why?


Perayaan Ulang Tahun Menurut Islam
  • Perayaan ulang tahun sudah ada dan menjadi tradisi masyarakat Romawi Kuno
  • Awalnya, perayaan ulang tahun terbatas hanya dirayakan oleh kalangan raja dan bangsawan
  • Agama-agama sebelum Islam tidak mengenal perayaan ulang tahun, bahkan sebagian menganggapnya tidak baik. Meskipun demikian, mereka merayakan hari kelahiran pemimpin agama mereka
  • Tidak ada perayaan ulang tahun dalam Islam
  • Tidak ditemukan perintah maupun contoh perayaan ulang tahun di zaman Rasulullah dan Salafus Shaalih
  • Sebagian ulama melarang perayaan ulang tahun karena :
    • Termasuk bid’ah (inovasi) jika dianggap sebagai ibadah
    • Termasuk tasyabbuh (menyerupai orang kafir)
    • Tidak ada Hari Raya selain ‘Iedul Fithri, ‘Iedul Adha dan Hari Jum’at
    • Rasulullah menghapus Hari Raya penduduk Madinah di masa jahiliah

  • Sebagian ulama membolehkan perayaan ulang tahun sebagai ungkapan syukur dengan syarat tidak ada unsur kufur dan syirik serta adanya beberapa modifikasi dari perayaan jahiliyah menjadi perayaan yang lebih islami.
    Bahkan sebagian mengungkapkan beberapa pertanyaan sinis :
    “Apa salahnya tasyakur atas nikmat umur dan kesehatan ?”
    “Masa tahadduts bin ni’mah nggak boleh ?”
    “Masa mendoakan kebaikan nggak boleh ?”
    “Masa nraktir temen disebut bid’ah ?”
    DLL.

Islamisasi Budaya

Dulu, waktu masih kecil, aku sering menghadiri pesta perayaan ulang tahun teman. Dan hal-hal yang menjadi rukun dari perayaan ulang tahun, yang wajib dan mesti ada adalah kue ulang tahun, lilin, hadiah dan ‘lagu kebangsaan’ selamat ulang tahun dan happy birthday to you. Ungkapan-ungkapan seperti : “Selamat Ulang Tahun” dan “Semoga Panjang Umur” menjadi wajib diucapkan pada saat ulang tahun. Bisa juga dengan modifikasi “Moga Makin Ganteng/Cantik”, “Sehat Selalu”, “Moga Rezekinya Lancar”, dan ungkapan-ungkapan unik lainnya yang bervariatif seiring perkembangan zaman.


Mau lebih keren sedikit ya pake bahasa Inggris : “Happy Birthday” (HBD), “Good Luck”, “God Bless You” (GBU), “Wish You All The Best” (WYATB), etc.

Naah, entah kapan mulainya tiba-tiba muncul ungkapan-ungkapan baru berikut ini :
– Met Milad
– Milad Mubarok
– Ma’a ‘iedil milaad
– baarokalloh fie ‘umrik
– …

bisa dibilang ungkapan-ungkapan tersebut merupakan islamisasi (atau arabisasi) budaya ulang tahun sebagai pengganti ungkapan jahiliyah sebelumnya. Dipopulerkan oleh kalangan pesantren dan aktifis dakwah, jadi lebih berkesan “nyunnah dan berpahala”. hohoho..


Ulang Tahun Dalam Pandangan Pribadi Kami

Perayaan ulang tahun tidak pernah menjadi bagian dari tradisi atau budaya kami. You know why? bukan hanya karena alasan agama. Sebagian orang menganggap sakral event ulang tahun karena saat itu adalah momen refleksi dan introsfeksi. Merenungi dan mensyukuri pencapaian-pencapaian hidup dan memplanning masa depan sebagai konsekuensi dari bertambahnya usia dan berkurangnya jatah hidup. Seorang pernah berkata : “Apa salahnya mendoakan ‘baarokalloh fie ‘umrik’? bukankah ini doa untuk kebaikan? bukankah do’a adalah ‘ibadah? Ente nggak suka didoain? Atau ente nggak suka dengan hal-hal yang islami? Wah, liberal nih, wahabi, antek zionis!” #gubrak.

Padahal kalau kita jujur kawan, “BERTAMBAHNYA USIA DAN BERKURANGNYA JATAH HIDUP TERJADI SETIAP DETIK”. atau kamu lupa kawan?
Itu artinya tidak ada hari khusus yang spesial. Kalau kamu mau mendoakan kenapa nggak kmaren, atau besok atau pekan depan? knapa mesti hari ini? knapa coba? jawab ! nggak bisa jawab kan?! maka jawaban paling cocok adalah : KARENA BUDAYA LATAH DAN MENTAL ALAY. maaf bagi yang tersinggung. karena inilah sikap kami. sekali lagi bukan hanya karena alasan agama.

Adapun karena alasan agama, maka sikap kami dalam masalah ini adalah sikap ‘pemalu’ dan ‘penakut’. Malu dan takut kepada Allah. Malu berbuat dosa. Takut terjerumus ke dalam bid’ah dan tasyabbuh bil kuffaar. Tapi, sekali lagi bukan hanya karena alasan agama, bagiku mendo’akan dalam rangka ulang tahun adalah seperti ketika kita melihat sepasang teman yang sedang berasyik-masyuk pacaran, kemudian kita berkata : “baarokallohu laka…. semoga dikaruniai anak yang sholeh”.

Tidak ada yang salah dengan mendoakan kebaikan bagi orang lain. Hanya saja pastikan dilakukan dengan cara yang baik, kondisi yang baik. Tidak perlu berdoa ‘via’ facebook. Bukankah mendoakan kebaikan bagi seseorang tanpa diketahui oleh orang yang didoakan akan diijabah. Lagipula norak lho berdoa di facebook itu.

Maka dalam risalah ini aku tegaskan, no more wall message / inbox hbd. Kalau mau mendoakan. Berdoalah dalam hati, kapanpun. Every day is special.

“Sungguh, tak ada yang lebih berharga daripada mengamati waktumu di dunia ini menghilang dan berkurang, untuk menolongmu membenahi dan meluruskan segala prioritas hidupmu”

Dari Abu Sa‘id Al Khudri, ia berkata: “Rasululah bersabda: ‘Sungguh kalian akan mengikuti jejak umat-umat sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehingga kalau mereka masuk ke dalam lubang biawak, niscaya kalianpun akan masuk ke dalamnya.’ Mereka (para sahabat) bertanya: ‘Wahai Rasulullah, apakah kaum Yahudi dan Nasrani?’ Sabda beliau: “Siapa lagi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

sumber : facebook Amr Abdul Jabbar

Komentar

Tentang Amr Abdul Jabbar

Bukan siapa siapa

Lihat juga

Tatacara Berwudhu’nya Rasulullah

Bismillaahirrahmaanirrahiim, Bila dikaitkan dengan bahasa, wudhu’ bermakna kebersihan dan keindahan (Lihat Al Qamus Al Muhith …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lewat ke baris perkakas